Sabtu, 02 Februari 2013

Pembuatan Dan Stansarisasi Larutan EDTA


Pembuatan Larutan EDTA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Larutan baku adalah larutan yang kepekaannya diketahui dengan tepat dan dapat dibuat melalui dua cara yang masing-masing tergantung dari penggunaan bahan baku. Bahan baku adalah bahan kimia yang dapat dipergunakan untuk membuat larutan baku “primer” (primary standard solution) dan untuk menetapkan kenormalan larutan baku “sekunder” (secondary standard solution).[1]
Titrasi kompleksometri meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Contoh dari kompleks tersebut adalah kompleks logam dengan EDTA.[2] Umumnya, indikator yang digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah indikator logam yang mempunyai stabilitas yang lebih kecil dari dinatrium EDTA-logam dan bersifat sebagai ligand yang membentuk kompleks-logam yang warnanya berbeda dengan warnanya sendiri.[3]
1
EDTA merupakan suatu zat yang penggunaanya sangat luas dalam titrasi pembentukan kompleks. EDTA merupakan ligand sixidentat yang dapat membentuk ikatan koordinasi dengan ion logam melalui dua atom nitrogen dan empat gugus karboksilat. Kestabilan kompleks senyawa EDTA bergantung pada macamnya ion logam. Persyaratan mendasar dalam titrasi kompleksometri ialah terbentuknya kompleks molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan adalah kelarutan tingkat tinggi, seperti kompleks logam dengan EDTA.[4] Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka dilakukanlah percobaan untuk membuat larutan Na-EDTA dan standarisasi Na-EDTA dengan metode titrasi kompleksometri menggunakan larutan baku CaCl2 0,01 M.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari percobaan ini, yaitu :
1.    Bagaimana cara membuat larutan Na-EDTA dan standarisasi Na-EDTA dengan CaCl2 0,01 M ?
2.    Berapa konsentrasi dari Na-EDTA yang telah distandarisasi ?

C. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini, yaitu :
1.    Mengenal cara membuat larutan Na-EDTA dan standarisasi Na-EDTA dengan CaCl2 0,01 M.
2.    Menghitung konsentrasi dari Na-EDTA yang telah distandarisasi.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Larutan
Larutan dapat didefinisikan sebagai campuran homogeny dari dua zat atau lebih yang terdispersi sebagai molekul ataupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Disebut homogeny karena komposisi dari larutan bergitu seragam (satu fasa) sehingga tidak dapat diamati bagian-bagian komponen penyusunnya meskipun dengan mikroskop ultra. Dalam campuran heterogen permukaan-permukaan tertentu dapat diamati antara fase-fase yang terpisah.[5]
Larutan cairan dibuat dengan melarutkan gas, cairan atau padatan dalam suatu cairan. Jika sebagai cairan adalah air, maka larutan disebut larutan berair. Larutan padatan adalah padatan-padatan dalam mana satu komponen terdistribusi tak beraturan pada atom atau molekul dari komponen lainnya. Sifat-sifat larutan, misalnya warna dari larutan zat warna atau manisnya larutan gula,tergantung pada konsentrasi larutan.[6]
3
Apabila zat padat atau cairan larut dalam cairan, maka dalam campuran terjadi gaya tarik menarik antarmolekul (intermolekul) zat terlarut dan pelarut. Selain itu juga terdapat gaya tarik di dalam molekul (intramolekul) itu sendiri, yang menyebabkan molekul atau ionnya masih tetap bersatu. Dua senyawa dapat bercampur (miscible) lebih muda bila gaya tarik antara molekul solut dan pelarut semakin besar. Besarnya gaya tarik ini ditentukan oleh jenis ikatan pada masing-masing molekul. Bila gaya tarik antara molekulnya termasuk dalam kelompok yang sama (misalnya: air dan etanol), maka keduanya akan saling melarutkan. Sedangkan bila kekuatan gaya tarik antara molekulnya berbeda jenis (misalnya : air dan heksana), maka tidak saling melarutkan.[7]

B. Buffer
Larutan buffer adalah larutan yang tidak mengalami perubahan pH jika sejumlah kecil asam atau basa ditambahkan atau jika larutan diencerkan. Hal ini sangat penting untuk mempertahankan pH bagi suatu reaksi pada nilai pH optimumnya. Larutan buffer terdiri atas campuran asam lemah dengan basa konjugasinya atau basa lemah dengan asam konjugasinya pada konsentrasi yang ditentukan sebelumnya.[8]
Dalam praktek analisis kualitatif dan kuantitatif anorganik, penyesuaian konsentrasi ion-hidrogen sampai nilai tertentu perlu dilakukan sebelum melakukan suatu uji dan menjaga agar konsentrasi ion-hidrogen ini tetap selama jalannya analisis. Jika diperlukan suasana yang bersifat asam kuat (pH 0-2) atau basa kuat (pH 12-14), ini dapat dicapai dengan menambahkan asam kuat atau basa kuat secukupnya. Namun, jika pH larutan harus dipertahankan antara 2 dan 12 misalnya, cara di atas tak akan membantu.[9]

D. Indikator
Indikator adalah suatu zat yang warnanya berbeda-beda sesuai dengan konsentrasi ion hidrogen. Umumnya merupakan suatu asam atau basa organik lemah, yang dipakai dalam larutan yang sangat encer. Asam atau basa indikator yang tak terdisosiasi mempunyai warna yang berbeda dengan hasil disosiasinya.[10]
Pada titrasi kompleksometri digunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleks sendiri. Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah: Eriochrome black T; pyrocatechol violet; xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue. Sebagian besar indikator adalah IDA-imino-diasetat atau sulfoftalein, SP, dari tipe purin atau azo. Keefektifan indikator tergantung pada kestabilannya.[11]
                                                
Eriochrome black T (pH 8,0 – 10,5)                                                                           Mureksid (pH 6,0 -13,0)

C. Larutan Baku
Bahan baku adalah bahan kimia yang dapat dipergunakan untuk membuat larutan baku “primer” (primary standard solution) dan untuk menetapkan kenormalan larutan baku “sekunder” (secondary standard solution).[12] Zat kimia yang benar-benar murni bila ditimbang dengan tepat dan dilarutkan dalam sejumlah tertentu pelarut yang sesuai menghasilkan larutan standar primer. Larutan standar lain yang ditetapkan konsentrasinya melalui titrasi dengan menggunakan larutan standar primer dikenal sebagai larutan standar sekunder.[13]
Menurut Sodiq Ibnu, et al (2005), bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan membuat larutan standar primer harus memenuhi tiga persyaratan berikut :
1.    Benar-benar ada dalam keadaan murni dengan kadar pengotor sebesar 0,02%.
2.    Stabil secara kimiawi, mudah dikeringkan dan tidak bersifat higroskopis.
3.    Memiliki berat ekivalen besar sehingga meminimalkan kesalahan akibat penimbangan.
Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui dengan pasti. Larutan baku dapat dibuat dengan cara penimbangan zat-nya lalu dilarutkan dalam sejumlah pelarut (air). Larutan baku ini sangat bergantung pada jenis zat yang ditimbangnya/dibuat. Larutan yang dibuat dari zat yang memenuhi syarat-syarat tertentu disebut larutan baku primer. Syarat agar suatu zat menjadi larutan baku primer adalah :
1.    Mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (jika mungkin pada suhu 110-1200C) dan disimpan dalam keadaan murni.
2.    Tidak bersifat higroskopis dan tidak berubah berat dalam penimbangan di udara.
3.    Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji kualitatif dan kepekaan tertentu.
4.    Sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa ekivalen yang besar, sehingga kesalahan karena penimbangan dapat diabaikan.
5.    Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih
6.    Reaksi yang berlangsung dengan pereaksi tersebut harus bersifat stoikiometrik dan langsung. Kesalahan titrasi harus dapat diabaikan atau dapat ditentukan secara tepat dan mudah.
Larutan baku primer biasanya dibuat hanya sedikit, penimbangan yang dilakukan pun harus teliti dan dilarutkan dengan volume yang akurat. Pembuatan larutan baku primer ini biasanya dilakukan dalam labu ukur yang volumenya tertentu. Zat yang dapat dibuat sebagai larutan baku primer adalah asam oksalat, boraks, asam benzoat (C6H5COOH), K2Cr2O7, AS2O3, NaCl.[14]
Konsentrasi larutan baku yang digunakan dapat berupa molaritas (jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan) dan normalitas (jumlah ekivalen zat terlarut dalam satu liter larutan). Satuan molaritas merupakan satuan dasar yang digunakan secara internasional, sedangkan satuan normalitas biasa juga dilakukan dalam analisis karena dapat memudahkan perhitungan.[15]
Larutan baku sekunder adalah larutan yang konsentrasinya diperoleh dengan cara mentitrasi dengan larutan standar primer. Natrium hidroksida (NaOH) tidak dapat dipakai untuk larutan baku primer yang disebabkan karena natrium hidroksida (NaOH) bersifat higroskopis. Oleh sebab itu, maka natrium hidroksida (NaOH) harus dititrasi dahulu dengan KHP agar dapat dipakai sebagai larutan baku primer. Begitu juga dengan asam sulfat (H2SO4) dan asam klorida (HCl) juga tidak bisa dipakai sebagai larutan baku primer, agar menjadi larutan baku sekunder maka larutan ini dapat dititrasi dengan larutan standar primer natrium karbonat (NaCO3).[16]
Menurut Effendy Wijaya (2010), syarat-syarat larutan baku sekunder, yaitu :
1.    Derajat kemurnian lebih rendah daripada larutan baku primer.
2.    Mempunyai BE yang tinggi untuk memperkecil kesalahan penimbangan.
3.    Larutannya relatif stabil dalam penyimpanan.



D. Titrasi Kompleksometri
Komplekson yaitu zat-zat yang dapat membentuk senyawaan kompleks khelat dengan ion logam. Sejumlah golongan amina tertier yang mengandung gugusan karboksilat akan membentuk senyawa kompleks yang sangat baik dengan bermacam-macam ion logam. Senyawaan tersebut dijual dengan nama versene (Dow Chemical Co) atau komplekson.[17]
Kompleksometri didasarkan pada pembentukan kompleks stabil hasil reaksi antara analit dengan titran. Misalnya reaksi antara Ag+ dan CN- yang mengikuti persamaan reaksi:
Ag+ + 2CN- à -
Reaksi antara Ag+ dengan CNdikenal sebagai metode Liebig untuk penetapan sianida.[18]
Titrasi kompleksometri meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Contoh dari kompleks tersebut adalah kompleks logam dengan EDTA.[19]


(Struktur EDTA)
Kelebihan titrasi kompleksometri adalah karena EDTA stabil, mudah larut dan menunjukkan komposisi kimiawi yang tertentu. Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Cr, Ca, dan Ba dapat dititrasi pada pH 11; Mn2+, Fe, Co, Ni, Zn, Cd, Al, Pb, Cu, Ti dan V dapat dititrasi pada pH 4-7. Terakhir logam seperti Hg, Bi, Co, Fe, Cr, Ca, In, Sc, Ti, V dan Th dapat dititirasi pada pH 1-4. EDTA sebagai garam natrium, Na2H2Y sendiri merupakan standar primer sehingga tidak perlu standardisasi lebih lanjut. Kompleks yang mudah larut dalam air. Suatu titik ekuivalen segera tercapai dalam titrasi demikian dan akhirnya titrasi kompleksometri dapat digunakan untuk penentuan beberapa logam pada operasi skala semimikro.[20]

2.     


BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Waktu dan Tempat
Waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini, yaitu sebagai berikut :
Hari/Tanggal   : Rabu/ 9Mei 2012
Pukul               : 13.30 – 16.00 WITA
Tempat            : Laboratorium Kimia Analitik
Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar

B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat - alat yang digunakan pada percobaan ini adalah neraca analitik, buret asam 50 mL, labu takar 1 L, labu takar 500 mL, gelas kimia 400 mL dan 250 mL, erlenmeyer 250 mL, pipet volume 25 mL, statif dan klem, pipet tetes 3 mL, petridis, bulp, corong, botol semprot, spatula dan batang pengaduk.
2. Bahan
Bahan – bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah aluminium foil, asam klorida (HCl) 1:1, aquabides, indikator EBT, kalsium karbonat (CaCO3) kering, larutan buffer pH 10 magnesium klorida (MgCl2.6H2O) p.a dan natrium etilen diamin tetra asetat (Na-EDTA) dihidrat.
11

 
 
C. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada percobaan ini, yaitu sebagai berikut :
1. Pembuatan 1 L larutan Na-EDTA 0,01 M
a.    Menimbang 4 gram Na-EDTA secara kasar dan memasukkan ke dalam gelas kimia 400 mL.
b.    Menimbang secara kasar 0,1 gram MgCl2.6H2O dan memasukkan ke dalam gelas kimia.
c.    Menambahkan aquabides sampai kedua padatan membentuk larutan homogeny.
d.   Memindahkan larutan ke dalam labu takar 1 L dan menambahkan aquabides sampai tepat tanda batas.
e.    Menghomogenkan larutan dan memindahkan ke dalam botol reagen, kemudian memberi label.
2. Pembuatan 500 mL larutan baku CaCl2 0,01 M
a.    Menimbang secara kasar 0,4 gram CaCO3 dalam petridis dengan menggunakan neraca analitik.
b.    Menimbang ulang dengan teliti cawan + zat + tutup cawan dan mencatat beratnya sebagai a gram.
c.    Memindahkan zat tersebut ke dalam labu takar 500 mL.
d.   Mengalirkan secara memutar lewat leher labu sampai volume 100 mL.
e.    Menimbang lagi dengan teliti cawan + sisa zat + tutup cawan dan mencatat beratnya sebagai b gram.
f.     Menambahkan HCl 1:1 tetes per tetes sampai larutan jernih.
g.    Menambahkan aquabides ke dalam labu takar sampai 0,5 cm di bawah tanda garis dan mengeringkan leher labu dengan menggunakan tissue.
h.    Menambahkan tetes per tetes aquabides sampai tepat tanda batas.
i.      Menutup labu dan menghomogenkan larutan.
3. Pembakuan larutan Na-EDTA dengan larutan baku CaCl2
a.    Memipet 25 mL larutan baku CaCl2 0,01 M dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL.
b.    Menyemprot dengan sedikit aquabides pada dinding erlenmeyer yang basah.
c.    Menambahkan 3 mL larutan buffer pH 10 ke dalam erlenmeyer.
d.   Menambahkan 5 tetes indikator EBT ke dalam erlenmeyer dan menghomogenkan larutan.
e.    Menitrasi larutan dengan Na-EDTA dari buret secara perlahan sampai warna merah anggur (ungu) berubah menjadi warna biru.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil pengamatan dari percobaan ini, yaitu sebagai berikut :
1. Tabel Pengamatan
a. Pembuatan Na-EDTA 0,01 M
Zat yang Bereaksi
Hasil Reaksi
Keterangan
4,0009 gram Na-EDTA + 0,1030 gram MgCl2.6H2O


Larutan bening


-
+ Aqubides



Larutan bening


-
+ Mengencerkan hingga
   1 L

Larutan bening
14

b. Pembuatan CaCl2 0,01 M
Zat yang Bereaksi
Hasil Reaksi
Keterangan
0,4002 gram CaCO3 + aquabides

Larutan putih
+ HCl 1 : 1


Larutan bening
+ aquabides sampai tanda batas

Larutan bening

c. Pembakuan Na-EDTA dengan larutan baku CaCl2 0,01 M
Zat yang Bereaksi
Hasil Reaksi
Keterangan
25 mL CaCl2 0,01 M + 3 mL buffer pH 10

Larutan bening
+ 5 tetes indikator EBT


Larutan ungu
+ dititrasi dengan Na-EDTA 0,01 M

Larutan biru

2. Hasil Pengamatan
a. Pembuatan Na-EDTA 0,01 M
1) Bobot Na-EDTA           = 4,0009 gram
2) Bobot MgCl2.6H2O       = 0,1030 gram
b. Pembuatan CaCl2 0,01 M
1) Bobot CaCO3                                                                      = 0,4002 gram
2) Bobot cawan + sampel + penutup cawan (a)                 = 37,6967 gram
3) Bobot cawan + sisa sampel + penutup cawan (b)          = 37,3000 gram
c. Pembakuan Na-EDTA dengan larutan baku CaCl2 0,01 M
Volume titrasi  =  28 mL
3. Analisa Data
Molaritas CaCO3 = 
 M = 7,93 x 10-3 M
MNa-EDTA               =   =  = 0,0089 M


4. Reaksi
CaCl2 + Na(C10H16O8N2à Ca(C10H16O8N2)+ Na+ + Cl-
   (biru)

B. Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan percobaan untuk membuat larutan Na-EDTA 0,01 M dan standarisasi Na-EDTA dengan larutan kalsium klorida (CaCl2) 0,01 M. Penambahan MgCl2.6H2O pada larutan yang mengandung Na-EDTA berfungsi sebagai larutan yang akan menyumbangkan ion Mg2+ sehingga pada saat standarisasi larutan Na-EDTA, Mg2+akan bereaksi dengan indikator EBT dan membentuk MgIn- yang berwarna ungu. Pembuatan larutan baku kalsium klorida (CaCl2) 0,01 M dilakukan dengan melakukan pencampuran antara kalsium karbonat (CaCO3) dan asam klorida (HCl) 1 : 1 yang dilarutkan dalam 500 mL aquabides. Kalsium karbonat (CaCO3) dan asam klorida (HCl) akan bereaksi menghasilkan larutan kalsium klorida (CaCl2) yang dapat digunakan sebagai analit dan larutan standar primer. Pembakuan Na-EDTA dilakukan dengan penitrasian kalsium klorida (CaCl2) dimana keberadaan ion Ca2+ pada kalsium klorida (CaCl2) akan mengubah MgIn- yang merupakan hasil reaksi antara ion Mg2+ dengan Na-EDTA menjadi MgY2- sehingga indikator yang awalnya berwarna merah muda akan berbalik menjadi bentuk MgIn2- yang berwarna biru. Penambahan buffer pH 10 ke dalam larutan kalsium klorida (CaCl2) berfungsi sebagai larutan yang akan mempertahankan nilai pH sehingga berkisar 10 karena Mg2+ dapat bebas dan membentuk kompleks berwarna dengan EBT pada pH 10. Titik akhir titrasi diperlihatkan dengan perubahan warna dari indikator EBT akibat kompleks yang terjadi dari Mg2+ dan Ca2+. Natrium Etilen Diamin Tetra Asetat (Na-EDTA) sendiri berfungsi sebagai titran dimana EDTA mengandung logam Na (Y4-) yang menjadi anion bebas pada pengompleksan larutan serta berfungsi sebagai larutan baku sekunder yang akan ditentukan konsentrasinya berdasarkan titrasi kompleksometri.
Larutan standar primer dari percobaan ini adalah kalsium klorida (CaCl2) dimana larutan standar primer merupakan larutan yang konsentrasinya diketahui dengan penimbangan secara tepat zat kimia yang benar-benar murni dan dilarutkan dalam sejumlah pelarut tertentu. Penimbangan kalsium karbonat  (CaCO3) dilakukan dengan seksama sehingga diperoleh berat sebesar 0,4002 gram agar diperoleh larutan standar primer yang sesuai dimana konsentrasinya diketahui dengan tepat. Larutan standar sekunder merupakan larutan yang kosentrasinya diketahui melalui titrasi menggunakan larutan standar primer, dalam percobaan ini Na-EDTA berfungsi sebagai larutan standar sekunder yang konsentrasinya diketahui melalui titrasi dari larutan kalsium klorida (CaCl2). Standarisasi dari larutan standar sekunder dapat dilakukan melalui titik akhir dari titrasi sehingga konsentrasi baku-nya dapat diketahui. Konsentrasi Na-EDTA diketahui melalui sejumlah volume Na-EDTA yang digunakan untuk mengubah warna dari kalsium klorida (CaCl2) sehingga titik ekivalennya tercapai.
Berdasarkan dari hasil pengamatan dan analisa data, molaritas CaCO3 yang diperoleh adalah 7,93 x 10-3 M dan molaritas Na-EDTA adalah 0,0089 M. Konsentrasi Na-EDTA yang diperoleh ini hampir sesuai dengan teori dimana kemolaran Na-EDTA adalah 0,01 M sedangkan kemolaran yang diperoleh adalah 0,0089 M. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh bobot Na-EDTA yang berkurang saat dipindahkan ke dalam gelas kimia, kehilangan sedikit bobot dari Na-EDTA ini dapat mempengaruhi konsentrasinya saat pembakuan sehingga tidak sesuai dengan teori.




BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini, yaitu sebagai berikut :
1.    Pembuatan Na-EDTA dapat dilakukan dengan cara mencampurkan Na-EDTA dan MgCl2.6H2O kemudian diencerkan dengan aquabides sampai volume tertentu. Standarisasi Na-EDTA dilakukan dengan metode titrasi kompleksometri menggunakan larutan standar primer CaCl2 0,01 M.
2.    Konsentrasi Na-EDTA yang diperoleh setelah distandarisasi adalah 0,0089 M.

B. Saran
Saran dari percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan berikutnya dilakukan penimbangan dengan lebih teliti karena syarat dari larutan baku primer adalah melakukan penimbangan dengan teliti.




20

 


DAFTAR PUSTAKA

Chadijah, Sitti. Dasar-dasar Kimia Analitik (Kimia Analitik I). Kendari, Universitas Haluoleo, 2001
Chadijah, Sitti, Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2012
Firdaus, Ikhsan, “Komplekson”, chem.-is-try.org. 5 Maret 2009. http://www.chem-is-try.org. Diakses pada tanggal 9 Mei 2012
Ibnu, M. Sodiq Ibnu, et al.. Kimia Analitik I. Malang: Universitas Negeri Malang, 2005
Indigomorie, “Bagaimana Membuat Larutan Standar?”, kimiaanalisa.web.id. 18 Agustus 2009. http://kimiaanalisa.web.id/bagaimana-membuat-larutan-standar/. Diakses pada tanggal 9 Mei 2012
Khopkar. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia, 2010
Kirana, Candra. “Kompleksometri”, 4shared.com. 2 desember 2008. http://dc339.4shared.com/doc/Au_S-nGE/preview.html. Diakses pada tanggal 9 Mei 2012
Muhtiawati, Nur Holifah Muhtiawati, “Larutan Baku Primer”, catatankimia.com. http://catatankimia.com/catatan/larutan-baku-primer.html. Diakses pada tanggal 9 Mei 201
Sastrohamidjojo, Hardjono. Kimia Dasar. Yogyakarta: UGM-Press, 2005
Svehla G.. Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic Analysis. Terj. L. Setiono dan A. Hadyana Pudjaatmaka. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka, 1985
Wijaya, Effendy. “Kimia Analitik-titrasi Asam Basa”, scribd.com. 3 Oktober 2010. http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 9 Mei 2012
Yazid, Estien. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: ANDI, 2005


[1]Sitti Chadijah, Wa Ode Rustiah dan Anna Handayani, Penuntun Praktikum Kimia Analitik (Makassar: UIN Alauddin Makassar,2012), h. 1
[2]Khopkar, Konsep Dasar Kimia Analitik (Jakarta: Universitas Indonesia, 2010), h. 76
[3]Candra kirana, “Kompleksometri”, 4shared.com. 2 desember 2008. http://dc339.4shared.com/doc/Au_S-nGE/preview.html (9 Mei 2012)
[4]Ibid
[5]Estien Yazid, Kimia Fisika untuk Paramedis (Yogyakarta: ANDI, 2005), h : 38
[6]Hardjono Sastrohamidjojo, Kimia Dasar (Yogyakarta: UGM-Press, 2005) h : 227 – 228
[7]Estien Yazid, op. cit., h. 39
[8]Sitti Chadijah, Dasar-dasar Kimia Analitik (Kimia Analitik I) (Kendari, Universitas Haluoleo, 2001), h. 32
[9]Svehla G., Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic Analysis, terj. L. Setiono dan A. Hadyana Pudjaatmaka, Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian I (Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka, 1985), h. 51
Title: Pembuatan Dan Stansarisasi Larutan EDTA; Written by Fachruddin idris; Rating: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut